Pendapatan Fantastis Konser Blackpink Deadline Jakarta 2025

konser Blackpink Deadline World Tour 2025 global dan Jakarta

Industri hiburan global kembali berguncang hebat pada paruh kedua tahun 2025. Setelah sukses besar dengan tur “Born Pink” yang memecahkan rekor dunia, kuartet supergrup asal Korea Selatan, Blackpink, kembali menyapa penggemarnya lewat tur stadion terbaru bertajuk “Deadline World Tour”. Fenomena ini tidak hanya berbicara tentang musik dan koreografi memukau, tetapi juga perputaran uang yang fantastis. Bagi para pengamat gaya hidup dan ekonomi kreatif, konser Blackpink Deadline pendapatan global menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana sebuah entitas musik mampu menggerakkan roda ekonomi lintas benua, mulai dari Seoul, Paris, Los Angeles, hingga panggung megah Gelora Bung Karno di Jakarta.

Tur Sukses Dunia

Tur ini menandai era baru bagi Jennie, Jisoo, Lisa, dan Rosé yang kini telah matang dengan karier solo di bawah agensi mereka masing-masing, namun tetap bersatu di bawah bendera YG Entertainment untuk aktivitas grup. Reuni akbar di atas panggung ini menciptakan gelombang antusiasme yang jauh lebih besar dibandingkan tur sebelumnya, menciptakan permintaan tiket yang inelastis di tengah kondisi ekonomi global yang menantang.

Hegemoni Tur Stadion: Membedah Angka Pendapatan Global

Berbeda dengan tur sebelumnya yang masih mencampurkan arena dan stadion, Deadline World Tour 2025 mengusung konsep all-stadium tour. Strategi ini secara otomatis melipatgandakan potensi pendapatan kotor grup secara signifikan. Berdasarkan data awal dari leg Amerika Utara dan Eropa yang dimulai pada Juli 2025, rata-rata pendapatan per malam Blackpink mengalami lonjakan tajam.

  • Dominasi di Pasar Barat

Tur yang dimulai di Goyang Stadium, Korea Selatan pada awal Juli ini langsung tancap gas menuju pasar Amerika Utara. Pertunjukan di SoFi Stadium, Los Angeles, dan MetLife Stadium, New Jersey, mencatatkan penjualan tiket habis terjual (sold out) dalam hitungan menit. Analis industri memperkirakan bahwa pendapatan kotor dari leg Amerika Utara saja bisa menembus angka ratusan juta dolar. Sebagai perbandingan, tur Born Pink meraup total USD 331,8 juta. Dengan kapasitas venue yang lebih besar dan kenaikan harga tiket rata-rata sebesar 15-20% akibat inflasi produksi, Deadline World Tour diproyeksikan mampu menembus angka psikologis USD 450 juta hingga USD 500 juta pada saat tur berakhir di awal 2026.

  • Rekor Baru di Eropa

Eropa juga menjadi lumbung pendapatan yang masif. Penampilan mereka di Stade de France, Paris, pada Agustus 2025 menarik lebih dari 110.000 penonton selama dua hari pertunjukan. Ini adalah peningkatan dua kali lipat dibandingkan kunjungan mereka sebelumnya. Di London, Blackpink mencatatkan sejarah sebagai girl group K-Pop pertama yang menjadi headline di Wembley Stadium, sebuah pencapaian yang mempertegas status mereka sebagai ikon pop global terbesar saat ini. Pendapatan dari merchandise di Eropa juga dilaporkan memecahkan rekor penjualan per kapita, di mana penggemar rela menghabiskan dana besar untuk kaos tur, lightstick edisi khusus, dan aksesori eksklusif lainnya.

Jakarta Sebagai Episentrum “Pink Economy” Asia Tenggara

konser Blackpink Deadline World Tour 2025 global dan Jakarta
konser Blackpink Deadline World Tour 2025 global dan Jakarta

Indonesia, yang dikenal memiliki basis penggemar “Blink” terbesar dan paling loyal, kembali menjadi destinasi utama di Asia Tenggara. Konser yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari pada tanggal 1 dan 2 November 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) ini bukan sekadar acara musik, melainkan sebuah pesta ekonomi raksasa.

  • Proyeksi Pendapatan Tiket Fantastis

Promotor iMe Indonesia membawa tur ini dengan skala produksi yang jauh lebih megah. Jika kita membedah struktur harga tiket dan kapasitas stadion, angka yang muncul sangat mencengangkan. Stadion Utama GBK mampu menampung sekitar 70.000 penonton per hari untuk konfigurasi konser. Dengan harga tiket yang bervariasi mulai dari Rp 1.450.000 untuk kategori Restricted View hingga Rp 3.800.000 untuk paket VIP Blink Pit, rata-rata harga tiket berada di kisaran Rp 2,7 juta.

Dengan asumsi tingkat keterisian 100%—yang sangat mungkin terjadi mengingat antrean virtual saat war ticket mencapai jutaan orang pendapatan kotor dari penjualan tiket saja untuk dua hari konser di Jakarta diprediksi mencapai Rp 378 miliar hingga Rp 400 miliar. Angka ini belum termasuk pendapatan dari sponsor kakap seperti Visa, yang memegang hak eksklusif untuk sesi presale, serta kemitraan dengan platform lifestyle lainnya. Pemasukan ini menempatkan konser Deadline sebagai salah satu penyumbang devisa sektor hiburan terbesar bagi Jakarta di tahun 2025.

  • Struktur Harga Tiket dan Benefit

Antusiasme penggemar tidak surut meskipun terjadi kenaikan harga dibandingkan tahun 2023. Berikut adalah rincian kategori tiket yang menjadi rebutan:

  • VIP Blink Pit Package (Standing): Rp 3.800.000. Pemegang tiket ini mendapatkan akses soundcheck, lanyard eksklusif, dan prioritas masuk ke merchandise booth.

  • Platinum (Seating): Rp 3.400.000. Menawarkan pemandangan terbaik dari tribun bawah.

  • Cat 1 – Cat 4: Berkisar antara Rp 2.000.000 hingga Rp 3.100.000, memberikan opsi bagi penggemar dengan berbagai tingkat anggaran.

Keputusan promotor untuk menyediakan lebih banyak kategori tempat duduk (seating) dibandingkan berdiri (standing) di area lapangan juga mengakomodasi demografi penggemar yang semakin luas, mulai dari remaja hingga profesional muda yang mengutamakan kenyamanan.

Dampak Multiplier Effect pada Ekonomi Lokal

Kehadiran Jennie, Jisoo, Lisa, dan Rosé di Jakarta menciptakan gelombang ekonomi yang dirasakan jauh di luar dinding stadion. Multiplier effect atau efek berganda dari konser berskala stadion ini memberikan suntikan dana segar bagi berbagai sektor usaha di Ibu Kota.

  • Okupansi Hotel dan Pariwisata

Data dari perhimpunan hotel di sekitar kawasan Senayan, Sudirman, dan Thamrin menunjukkan lonjakan reservasi yang signifikan untuk periode akhir Oktober hingga awal November 2025. Penggemar yang datang tidak hanya berasal dari Jabodetabek, tetapi juga terbang dari luar pulau bahkan luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina yang mungkin kehabisan tiket di negara mereka. Fenomena “concert tourism” ini mendorong tingkat hunian hotel bintang 3 hingga 5 mencapai angka di atas 90%. Para wisatawan konser ini cenderung memiliki daya beli tinggi, menghabiskan uang untuk akomodasi, kuliner, dan belanja di pusat perbelanjaan sekitar venue.

  • Geliat UMKM dan Pedagang Musiman

Di lapisan ekonomi akar rumput, konser ini adalah berkah. Ribuan pedagang makanan, minuman, dan pernak-pernik tidak resmi memadati area lingkar luar GBK. Penjual jas hujan, kipas angin portable, hingga pengemudi ojek daring menikmati lonjakan omzet harian hingga 300%. Ekosistem ekonomi informal ini hidup subur selama periode konser, membuktikan bahwa acara hiburan internasional memiliki peran vital dalam mendistribusikan kekayaan ke pelaku usaha kecil.

Selain itu, jasa titip (jastip) tiket dan merchandise resmi juga menjadi bisnis sampingan yang menggiurkan bagi banyak anak muda. Perputaran uang di sektor jastip ini saja diperkirakan mencapai miliaran rupiah, mengingat tingginya permintaan merchandise resmi tur Deadline yang seringkali terjual habis di booth fisik.

Evolusi Pertunjukan: Setlist dan Kualitas Produksi

Apa yang membuat penggemar rela merogoh kocek jutaan rupiah? Jawabannya terletak pada evolusi artistik Blackpink. Tur Deadline 2025 menyajikan setlist yang segar dan berbeda dari era Born Pink. Penonton dimanjakan dengan penampilan lagu-lagu hits grup seperti “How You Like That”, “Pink Venom”, dan “Shut Down” yang diaransemen ulang dengan sentuhan live band yang lebih megah.

Namun, daya tarik utamanya adalah segmen solo yang diperbarui.

  • Jennie membawakan lagu terbarunya “Mantra” dan “Mantra (Remix)” dengan tata panggung yang futuristik.

  • Rosé mengguncang stadion dengan lagu global hits-nya “Apt.” (kolaborasi dengan Bruno Mars) dan lagu emosional dari album solonya “Rosie”.

  • Lisa mengubah stadion menjadi lantai dansa raksasa dengan lagu “Rockstar” dan “New Woman”, menampilkan kemampuan tarinya yang tak tertandingi.

  • Jisoo memukau dengan vokal yang semakin matang lewat lagu-lagu dari proyek solonya yang bernuansa elegan.

Produksi panggung menggunakan teknologi layar LED raksasa, pyrotechnics canggih, dan tata cahaya yang disinkronkan dengan lightstick penonton, menciptakan pengalaman visual (Pink Ocean) yang instagramable dan memuaskan dahaga konten para penggemar di media sosial.

Kesimpulan

Konser Blackpink Deadline World Tour 2025 bukan sekadar pertunjukan musik pop, melainkan sebuah fenomena ekonomi dan gaya hidup yang masif. Dengan estimasi pendapatan global yang berpotensi memecahkan rekor baru dan pendapatan tiket di Jakarta yang menembus ratusan miliar rupiah, Blackpink membuktikan bahwa daya tarik mereka semakin kuat seiring berjalannya waktu. Bagi Indonesia, acara ini menegaskan posisi Jakarta sebagai destinasi utama konser internasional yang mampu mengelola event berskala stadion dengan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat luas. Di tengah gempuran konten digital, pengalaman langsung menyaksikan empat ikon global ini tetap menjadi komoditas gaya hidup paling prestisius di tahun 2025.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *